Tetap Berpuasa ketika MengASIhi dan Hamil

Bismillahirrahmanirrahim.. Semoga sharing ini tidak menjadikan riya atau sombong ya momsπŸ’•πŸ˜

Bunda JaKa mau berbagi pengalaman saja. Alhamdulillah tahun ini merupakan tahun ke 5 bunda JaKa menjalankan ibadah puasa ramadhan setelah menikah.

Di tahun pertama dan kedua menjalankan puasa ketika hamil.

Tahun pertama sedang hamil kakaknya Javas (alm.Alula) dengan usia kandungan 3 bulan. Lancar jaya berpuasa tanpa halang rintang karena memang tidak mengalami mual muntah dan belum rakus makan. Alhamdulillah…πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜‡πŸ˜‡

Tahun kedua hamil Javas usia 5 bulan. Alhamdulillah ini pun berlangsung lancar jaya.

Kalau dari pengalaman aku sendiri ya, mengASIhi saat berpuasa lebih terasa daripada Hamil saat berpuasa.

Di tahun ketiga ramadhan setelah menjadi istri, alhamdulillah akhirnya merasakan berpuasa sambil mengASIhi. Saat itu usia Javas 7 bulan. Tidak terlalu berat ya karena Javas sudah mulai MPASI, tapi kebutuhan ASI nya juga masih tetep banyak. Karena kan usia 6-12 bulan perbandingan ASI:MPASI (70:30).

Tetapi, alhamdulillah aku masih lancar berpuasa dan tetap bisa mengASIhi kakak Javas dengan baik.

Di tahun ke empat nya sungguh pengalaman Luar Biasa πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€. Karena aku sedang menjalani NWP (Nursing While Pregnant). Masih mengASIhi Javas yang berusia 20 bulan dan sedang Hamil Kafeel 3 bulan.

Alhamdulillah nya juga aku masih bisa menjalankan puasa ramadhan dengan lancar jugaπŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜πŸ˜πŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺ.

Tahun ini merupakan tahun kelima ramadhanku setelah menikah. Di tahun ini aku menjalankan ibadah puasa dengan mengASIhi baby Kafeel yang masih ASI eksklusif yaitu 5 bulan.

Kita semua paham ya kebutuhan baby ASI yang belum MPASI, kebutuhan ASI nya full boooo. Berasa banget ya moms setelah mengASIhi πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€πŸ€£πŸ€£πŸ€£. Tengorokan kering kerontangπŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€.

Tetapi, yang sebenernya di khawatirkan ketika produksi ASI berkurang dan membuat si baby dehidrasi kan???

Karena belum ada cairan atau makanan tambahan lain ketika baby masih berusia 0-6 bulan. Melainkan masih ASI eksklusif saja.

Naaaah, aku ingin sharing kepada moms semua sesuai pengalaman yang aku jalani ya..

Aku punya minuman andalanku yang insya allah membuat kita tetap bisa menjalankan kewajiban puasa dan mengASIhi baby, sehingga baby tetap mendapatkan hak ASI nya😎😎.

1. SAHUR

Aku biasa bangun sahur jam 3 pagi. Sambil menyiapkan menu sahur untuk suami, biasanya aku sambil makan buah atau cemilan dan tak lupa segelas air putih.

Jam 4 pagi nya, kira-kira 30 menit sebelum imsak, baru aku mulai makan nasi beserta lauk pauk dan sayuran.

Saat 5 menit sebelum imsak aku minum segelas minuman andalanku dan segelas air putih hangat.

Ini lah minuman andalan bunda JaKa aka Jus Susu Kurma.

Jus Susu Kurma ala Bunda JaKa

Bahan:

7-9 butir kurma (kurma apa saja)

150ml air putih

250ml susu uht (merk apa saja)

Cara membuat:

1. Rendam kurma yang sudah dibuang bijinya ke dalam 150ml air putih tutup rapat. Masukkan ke dalam kulkas.

Fyi, aku rendamnya setelah solat magrib jadi sekitar 8-9 jam.

2. Blender air rendaman kurma beserta kurmanya dan tambahkan susu uht nya.

3. Siap diminum, aku suka dingin minumnya jadi lebih segar.

2. BUKA PUASA

Bersegeralah berbuka puasa ketika azan sudah berkumandang.

Biasanya aku awali dengan makan kurma 1-3 biji dan segelas teh manis hangat.

Daan harus ya menu buka puasanya tetap makanan dengan gizi seimbang.

Karbo, protein dan sayuran jangan sampai ketinggalan. Misalnya nasi, sayur bayam, tempe, tahu dan lele goreng. (makanan sederhana tapi lezat banget kan mom?? Apalagi tambah sambelπŸ€€πŸ˜›)

Oh iya, dan jangan lupa ya konsumsi air putihnya harus tetap 8 gelas atau 2 liter ya minimal seharinya. Caranya diatur sendiri yang nyaman buat kita. Kalau aku sih memang suka minum air putih. Jadi sering banget deh minum air putih dari buka puasa sampai sahur.

Sharing is Caring,

Bunda JaKa

Iklan

Aku bersyukur bisa melahirkan secara VBAC

Alhamdulillah,,,, tak ada hentinya aku bersyukur kepada Allah SWT atas campur tanganNya sehingga mengabulkan doaku agar aku bisa melahirkan secara normal anak ketiga ku ini.

Memang, aku sudah 2 kali melahirkan sebelumnya. Dan aku sudah tahu bagaimana rasanya melahirkan secara normal dan Sectio Cesaria. Jadi, untuk persalinan ketiga ku kali ini aku ingin sekali melahirkan secara normal.

Ini adalah kehamilan dan persalinan ketigaku. Di persalinan pertamaku yaitu 3 tahun lalu, aku melahirkan secara normal dengan proses induksi. Dikarenakan anakku IUFD (Intra Uteri Fetal Death) di usia 35 minggu. Aku di induksi selama kurang lebih 3 hari. Dan alhamdulillah dapat melahirkan secara normal.
Di persalinan kedua ku pada Oktober 2016, aku melahirkan secara Sectio Cesarea dikarenakan gagal induksi.
Dari situlah aku merasakan perbedaan persalinan normal dan SC. Dan sejak saat itu, aku pun bertekad untuk tidak melahirkan secara SC lagi. Karena rasa sakit setelah operasi SC di bandingkan dengan melahirkan secara normal sangat jauh berbeda.

Dulu, di saat melahirkan secara normal, 2 jam setelah persalinan aku sudah bisa turun dari tempat tidur dan pergi BAK ke kamar mandi sendiri. Tetapi, 2 jam setelah operasi SC, obat bius yang di berikan mulai menghilang dan rasa nyeri di luka sayatan mulai terasa. Serta hampir semua badan rasanya sakit semua. Kalau untuk saya pribadi rasanya benar-benar sakit. Rasanya campur aduk antara kontraksi rahim atau rasa nyeri di sayatan luka.

Maka dari kedua pengalaman itu, aku ingin sekali melahirkan secata normal kembali.
Karena, di persalinan ketigaku ini pasti setelah melahirkan ada 2 anak yang masih butuh tanganku untuk mengasuh mereka. Karena, aku tinggal hanya bersama suami dan anak-anakku saja. Jadi, harus cepat pulih kembali setelah melahirkan.

(begini lah nasib anak perantaunπŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€ jauh dari orang tua dan mertua).

Selama hamil ketiga ini, aku melakukan berbagai ikhtiyar agar dapat melahirkan secara VBAC (Vaginal Birth After Cesarian), mulai dari mencari tenaga kesehatan yang pro VBAC sampai googling apa saja yang harus dipersiapkan agar bisa melahirkan secara VBAC. Dan yang tak kalah pentingnya adalah selalu berdoa kepada yang maha kuasa agar di ridlai untuk dapat melahirkan secara normal kembali.

Aku pun mencari rumah sakit dan dokter pro normal di sekitar rumahku, awal periksa kehamilan sampai di usia 35 minggu aku periksa di salah satu RSIA Jakarta Timur. Aku pun sudah mengungkapkan keinginanku dari awal jika aku ingin mencoba VBAC.
Oke,, DSOG mengiyakan keinginanku pada awalnya, tetapi pada saat aku kontrol rutin di usia kehamilan 35 minggu, beliau berkata “jika 2 minggu lagi belum ada kontraksi, kita rencanakan SC ya bu..”
Disitu aku langsung down, aku belum siap dan dalam hati kecilku pun belum rela.
Dan sebagai bidan aku pun tahu, rata2 his asli mulai muncul di usia kehamilan 38 minggu.

Dari situ, aku mulai mencari lagi RS yang pro normal dekat rumah ku. Aku pun pindah kontrol ke RS Pusdikkes bertemu dr. Alex, SpOG. Setelah beliau melakukan pemeriksaan, saya mulai berkonsultasi dan mengungkapkan keinginan saya untuk mencoba VBAC.
Oke, beliau setujuπŸ˜€πŸ˜€.
Alhamdulillah aku sedikit lega, dan jadwal kembali kontrol 2 minggu lagi saat usia kehamilan 37 minggu.

Akhirnya, usia kehamilanku sudah 37 minggu aku kembali kontrol ke RS Pusdikkes Kramat Jati, dari hasil pemeriksaan USG semua dalam kondisi baik, janin dan air ketuban masih cukup, tetapi sudah mulai tidak jernih. Dokter menganjurkan untuk kembali lagi 1 minggu kemudian, dan jika dalam 1 minggu tidak ada his, beliau menganjurkan untuk merencanakan SC takutnya ketuban mulai keruh.

Yaaaah, disitu aku merasa sedih lagi, mulai down lagi. Akhirnya, aku mulai melakukan induksi-induksi alami, yaitu:
1. Menambah durasi jalan kaki
2. Lebih sering melakukan “hubungan” suami istri
3. Berenang
4. Melakukan senam hamil (ini aku lakukan sendiri di rumah sihπŸ˜€)

1 minggu sudah berlalu, harusnya sudah waktunya kembali kontrol. Tetapi saya tidak mau kontrol πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€ (jangan di tiruπŸ˜€πŸ€£) karena belum merasakan HIS di usia kehamilan 38 minggu ini. Jadi saya merayu suami saya untuk tidak kontrol minggu ini. Karena saya takut kalau di suruh rencana SCπŸ˜€πŸ˜€. Tetapi, saya selalu kontrol DJJ bayi saya. Karena saya memiliki doppler di rumah. Dan alhamdulillah gerakan janin masih aktif dan DJJ dalam kondisi normal.

1 minggu menuju usia kehamilan 39 minggu aku mulai merasakan HIS palsu, mulai sering kontraksi palsu yang masih hilang timbul. Di situ aku merasa sangat bahagia semoga gelombang cinta yang aku nantikan.

Dari situlah, aku mulai menambah durasiku jalan kaki dan senam hamil di rumah. Dan tetap selalu berdoa sama Allah SWT agar di permudah prosesnya dan diijabah doa untuk dapat melahirkan secara normal.

Di usia kehamilan 39minggu, suamiku sudah tidak bisa di nego lagi untuk tidak kontrol kehamilan πŸ˜€πŸ€£. Karena, suamiku khawatir dan ingin memastikan kehamilanku masih dalam keadaan baik dan normal.
Akhirnya, aku pun nurut untuk kontrol kehamilanku.

Sampai di RS Pusdikkes, aku kaget ternyata dokter yang aku temui berbeda. Kali ini, aku bertemu dr. Andri, SpOG. Beliau memperkenalkan diri jikalau beliau menggantikan dr. Alex, SpOG yang sudah pindah tugas ke luar kota.

Aku mulai konsultasi kembali dan menyampaikan niatku yang ingin mencoba persalinan VBAC. Beliau setuju asal semua syarat untuk VBAC terpenuhi.

Alhamdulillah,,,, bahagia sekali mendengar pernyataannya.
😍😍😍😍

Setelah selesai melakukan pemeriksaan, beliau setuju untuk menunggu 1 minggu kemudian di usia kehamilan 40 minggu untuk kontrol berikutnya jika belum datang His alami itu. Karena syarat utama VBAC itu harus datang His Alami tidak boleh ada induksi persalinan.

Syarat yang lain yang menunjangku dapat mencoba VBAC adalah :
1. Aku baru sekali melahirkan secara SC
2. Jarak persalinan ini sudah lebih dari 18 bulan
3. Ketebalan SBR (Segmen Bawah Rahim) > 4mm

Alhamdulillah ketiga syarat itu aku terpenuhi. Jadi dr. Andri, SpOG bersedia membantuku mencoba VBACπŸ˜€πŸ˜

Semakin semangatlah aku sambil menunggu gelombang cinta sungguhan segera datang. 😍😍😍

Pada tanggal 26 dan 27 november setiap malam aku sudah mulai merasakan kontraksi palsu yang jaraknya mulai sedikit teratur tapi masih hilang timbul. Bahagia sekali rasanyaπŸ˜€πŸ˜. Dan dalam hati, selalu berdoa dan berkata kepada adek bayi agar semakin kooperatif untuk dapat lahir normal. “semangat ya dek, sebentar lagi kita bertemu, ayo adek berikan bunda gelombang cinta sesungguhnya”.

Tanggal 28 november 2018, sejak pagi rasanya kontraksi nya mulai teratur meski jaraknya masih lama. Tetapi semakin lama semakin bertambah.
Waaah pasti ini gelombang cinta itu, pikirku.
Benar saja, pukul 11.00 aku keluar lendir darah cokelat😍😍😍.
Ya Allah, bahagia sekali rasanya😍. Dan his mulai berasa semakin kuat. Akhirnya aku menelpon suamiku yang sedang dinas luar. Dan memberitahunya kalau aku sudah keluar flek coklat dan his mulai sering.
Sesampainya di rumah, suamiku mengajakku ke RS tapi aku menolaknya. Aku bilang “nanti saja yah, kalau sudah semakin sering dan kuat hisnya”.
Oke,, akhirnya setelah mandi danΒ  solat ashar, aku rasa his sudah mulai lebih sering dan kuat di banding pagi hari tadi.
Suamiku juga sudah mulai melihat aku berbeda πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€. Sudah mulai sering tarik nafas dan tahan nafasnyaπŸ˜€πŸ˜€.
Daaan meluncurlah kami ke RS Pusdikkes Jakarta Timur.

Sampai di sana sekitar pukul 17.00 wib, dr. Andri, SpOG kebetulan masih praktek. Akhirnya, oleh beliau aku di suruh ke ruang bersalin untuk di CTG dan VT.

Dari hasil pemeriksaan CTG, keadaan janin bagus dan his sudah mulai ada tapi memang belum terlalu kuat. Tetapi aku sudah tidak boleh pulang karena harus di observasi jikalau tiba2 detak janin mulai tidak teratur. Dan hasil pemeriksaan dalam, aku sudah masuk pembukaan 3-4 cm artinya memang sudah masuk ke persalinan tetapi masih fase laten.

Gelombang cinta semakin lama semakin teratur. Tak lupa selalu berdoa agar Allah mudahkan dan lancarkan sampai persalinan nanti. Kakak javas dan ayahnya selalu menemani dan terus menyemangati aku. Jadi makin kuat dan bahagia merasakan gelombang cinta ini 😍😍😍.

Pukul 21.00 wib waktunya untuk pemeriksaan dalam selanjutnya. Jujur, aku khawatir, takut kalau tidak ada kemajuan persalinan. Tetapi, alhamdulillah setelah di lakukan pemeriksaan dalam, pembukaannya nambah menjadi 7cm. Portio sudah mulai tipis dan lunak. Serta kepala mulai turun di hodge 2. Dan djj si adek bayi pun dalam keadaan normalπŸ’•πŸ˜.
Ya allah, aku bahagia sekali, alhamdulillah sudah setengah jalan lebih. Aku harus semakin semangat.πŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺ

Pukul 01.00 wib hari berikutnya, yaitu tanggal 29 november 2018. Aku semakin tak tahan rasanya, gelombang cinta semakin menjadi, dan rasanya ingin sekali meneran, tiba-tiba terdengar suara pyur. Suamiku langsung memanggil bidan yang sedang jaga. Dan aku segera di periksa. Hasil pemeriksaannya, DJJ dalam keadaan normal, dan ternyata pembukaannya sudah lengkap, dan tadi suara pyur itu suara ketuban pecah. Warna ketuban jernih. Alhamdulillah sekarang waktunya ngejan dan melahirkan baby.

Oleh bidan ayu, aku dianjurkan mengejan sambil miring kiri saja. Karena kepala belum turun sempurna, masih di hodge 3.

Ternyata, tak semudah perkiraanku. Dulu, waktu aku melahirkan Alula (Alm) anak pertamaku yang lahir IUFD mudah sekali, setelah ketuban pecah langsung lahir sendiri cuma mengejan sekali saja. Ini sampai 2 jam dan terasa sangat lelah sekali, si baby tak kunjung keluar. Memang dulu Alula (Alm) beratnya hanya 2,4kg sih.

Sudah pukul 03.00 wib, si baby tak kunjung lahir juga. Dan dr. Andri, SpOG pun tak kunjung datang juga. Mungkin masih menangani pasien lain πŸ˜‡πŸ˜€πŸ˜¬. Rasanya aku sudah sangat hopeless. Takut kalau harus SC akhirnya. Karena sudah sampai disini perjuanganku.
Pukul 03.15 wib, dr. Andri, SpOG datang juga. Alhamdulillah πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡. Entah kenapa, setelah beliau datang tenagaku terasa recharge dan kuat πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜πŸ˜. Beliau menyuruhku untuk mengejan, dan baru beliau menyadari ternyata baby letak puncak kepala, bukan seperti layaknya bayi yang harus lahir normal biasanya letak belakang kepala.😧😧😧
Tetapi beliau menenangkanku, “tidak apa-apa bu, bisa lahir inshaallah, saya bantu vakum sedikit ya, ibu ngejan yang kuat.”
“iya dok, baik.” sahutku dengan mantap.
Akhirnya, dengan sekali tarikan vakum rendah dan sedikit epis terdengarlah suara tangisan baby pukul 03.30 wib.
Lahirlah baby Kafeel dengan berat badan 3200gr dan panjang badan 50cm.
Ya allah….. Alhamdulillah,,,,,
Tak henti-hentinya aku bersyukur. Lega sekaliiiii,,,, lahir sudah baby boy dengan proses normal dan selamatπŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ’•πŸ’•πŸ’•
Terimakasih dr. Andri, SpOG dan para bidan RS Pusdikkes lewat tangan-tangan kalian pertolongan Allah datang😍😍😍.

Akhirnya aku bisa juga menjalani VBAC πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡